Selasa, 28 Juni 2011

Manfaat Dari Terapi Air




 Air bukan hanya berfungsi utk menyegarkan atau membuang racun dalam tubuh saja. Ternyata air juga sangat bagus utk merawat kecantikan kulit.
Banyak yg meremehkan khasiat air dan menygka hanya sebagai pelepas dahaga saja. Dilansir dari Beauty Rama, air hangat dan air dingin ketika dibasuhkan pada wajah memiliki manfaatnya masing-masing.
Selain baik utk melancarkan peredaran darah, air hangat yg dibasuhkan pada wajah baik utk melembabkan, merevitalisasi dan memberi oksigen pada kulit. Uap dari hangat juga bisa dimanfaatkan utk membersihkan kotoran pada wajah dan dapat dijadikan sebagai obat jerawat.

Uap air panas dapat membuka pori-pori, sehingga komedo dan bakteri pada jerawat dapat keluar. Caranya dgn mendekatkan wajah ke baskom yg berisi air hangat, lalu tutupi kepala, agar uap yg keluar hanya terkonsentrasi pada bagian wajah saja. Setelahnya, jangan lupa utk membasuh wajah dgn air dingin, utk menutup kembali pori-pori.
Sedangkan air dingin dapat dimanfaatkan utk menyegarkan wajah dan meredakan kemerahan pada jerawat. Air dingin juga bisa mengempiskan mata ketika bengkak. Obat jerawat
Air dingin sangat ideal sebagai ritual perawatan wajah pada pagi hari. Berguna utk mengaktifkan sirkulasi darah, mengurangi minyak dan mengecilkan pori-pori.
Perawatan dgn air juga bisa dimaksimalkan dgn mencampurnya dgn potongan lemon atau mawar. Fungsinya utk menyegarkan dan mencerahkan wajah.

Mari-mari Buat Cewe2 Maupun Cwok2 Kita Kenali Jenis wajah Kulit Anda.....

Terdapat 5 jenis kulit wajah: normal, berminyak, kering, kombinasi, dan sensitif. Untuk mengetahui jenis kulit Anda dengan cara mudah.
Ambil selembar tisu atau kertas makeup khusus untuk mengangkat minyak, lalu perhatikan di mana minyak-minyak di wajah Anda berkumpul. Lakukan sekitar beberapa jam setelah wajah dibersihkan, dalam suhu ruangan yang normal (tidak dingin, tidak panas). Tekan-tekan tisu tersebut di titik T-zone (hidung dan daerah dahi bagian atas alis mata), lalu perhatikan. Alihkan ke titik-titik lain di wajah Anda, dan perhatikan lagi sisanya. Berikut tanda-tandanya dan artinya:
1. Kulit normal: Tak akan ada banyak sisa minyak, atau ada sedikit sisa minyak dari wajah di titik T-zone. Jika kulit Anda normal, kulit wajah Anda akan terasa lembut dan kenyal di seluruh bagian wajah secara merata.
2. Kulit kering: Seperti kulit normal, tisu tak akan banyak mengandung minyak, namun akan ada kulit-kulit yang mengelupas, terasa kencang, dan kering.
3. Kulit berminyak: Akan tersisa banyak sisa minyak di tisu atau kertas minyak yang Anda gunakan, namun minyak ini berasal dari seluruh bagian wajah, daerah T-zone, pipi, dagu, dan dahi. Mudah untuk mengenali kulit berminyak, karena biasanya jenis kulit ini memiliki pori-pori besar dan berjerawat.
4. Kulit kombinasi: Kulit kombinasi berarti Anda memiliki kulit berminyak dan kulit kering (bukan normal). Jika kertas minyak yang Anda gunakan mendapati banyak minyak di daerah T, namun Anda juga mendapati bahwa sisa kulit Anda mengelupas atau kering dan kencang, maka kulit anda termasuk jenis kombinasi.
5. Sensitif: Kulit sensitif tidak akan banyak meninggalkan sisa minyak, tapi akan cenderung kering dan terasa kencang. Sering berwarna kemerahan, mengelupas, dan sering terasa gatal ketika diaplikasikan produk perawatan kulit, juga rawan berjerawat. Setelah mengetahui jenis kulit wajah, akan lebih mudah untuk merawat dan membeli produk perawatan yang paling tepat untuknya. Namun perlu diingat, ini adalah teknik dasar untuk mengetahui jenis kulit. Jika Anda masih belum yakin atau ingin lebih dalam merawat kulit wajah Anda, temuilah dokter kulit atau pakar kesehatan kulit untuk mendapatkan perawatan yang terbaik.
sumber : kompas.com

Kamis, 23 Juni 2011

lee min hoo

Montiiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrrrrr

Pagi ini seperti biasa Ina melakukan pekerjaan rutinnya di sebuah bengkel yang telah dibangun bersma teman-temannya.pagi ini ia sedang asik mengepel ruang kerjanya yang bisa di pakai untuk menghitung pendapatan dan pengeluaran perharinya di bengkel itu dan sekaligus gudang penyimpanan spare part motor yang baru di beli.
Saat ia sedang asik mengepel lantai tiba-tiba temannya yang bernama Badai masuk dan membawa satu kardus kampas rem yang langsung di letekan di lantai.Ina yang melihat itu langsung menegurnya.
“E…e…. Dai jangan taru disitu aku sedang ngepel lantai nih”kata Ina membaeritahukan Badai yang asal saja menaruh kardus berisi kampas rem itu.
“Oh…lagi ngepel ya…maaf ya…”kata Badai yang langsung mengangkat kardus itu kembali.
Badai pun membawa kerdus itu keluar ruangan dan menaruhnya di samping pintu masuk ruangan, ia pun kembali melongongkan kepalanya kedalam ruangan Ina.
“Ini aku taruh di sini ya…”Kata Badai sambil menunjukan kardus yang ditaruhnya kepada Ina”nanti kamu kasih tahu Rusdy aku udah beli kampas rem, o…ya… ini  bon pembeliannya”kata Badai menyerahkan kertas bon kepada Ina.
“kamu beli dari kemarin ya? Ko baru diantar sekarang kamu taruh mana barangnya kemarin?”Tanya Ina setelah melihat tanggal yang tertera di kertas bon itu.
“Aku taruh di rumah Rusdy kemarin soalnya kemarin ka nada job mendadak dari Rusdy kalau kamu nggak percaya Tanya saja nati kalau Rusdy datang”kata Badai.
Ina pun sudah tidak banyak bertanya lagi kepada Badai yang telah memberikan penjelasan.
Selesai mengepel lantai bengakel pun langsung di buka Ina melihat Badai yang asik sendiri membongkar-bongkar motor di depan bengkel mengahampirinya.
“Dai kamu langsung boangkar motor?’tanya Inai yang tiba-tiba ada di sampingnya.
“Hm…”Kata Badai tanpa menengok kearah Ina
Dan itulah kebiasan buruk Badai bila sudah asik membongkar motor ia tidak akan meperdulikan kehadiran siapa pun yang ada disampingnya.dan Ina pun mengetahui itu.
“Kamu sudah sarapan belum?”Tanya Ina
“Kamu saja yang sarapan aku lagi bongkar motor dulu belum kelar nih”kata Badai yang dengan posisi yang sama ia berbicara tapi tidak melihat sama sekali ke hadapan Ina.
“Oke baikalah kalau begitu” Ina pun pergi meninggalkan Badai yang sedang asik membongkar motor.
Ina pun pergi untuk membeli sarapan paginya di depan bengkel.dan ketika ia kembali ke bengkel ia pun mendapati kalau Rusdy telah datang kedalam ruangannya yang tadi ia pel lantainya.
“Mas…”sapa Ina kepada Rusdy
“Eh…In dari mana?”Tanya Rusdy
“Habis beli nasi uduk, mas mau ?”Tanya Ina kepada Rusdy.
“Boleh deh kebetulan saya belum sarapan sekalian beliin tuh Badai”kata Rusdy.
“Yakin beliin Badai pas lagi bongkar motor?”Tanya Ina.
Rusdy pun tersenyum mendengar pertanyaan Ina.
“ternyata kamu lebih hafal Badai ya…”Kata Rusdy
“Maksud mas apa aku nggak ngerti”Kata Ina polos.
“Ah..sudah lah bielikan saja nanti juga dimakan”kata Rusdy yang langsung memberikan sejumlah uang untuk membeli nasi uduk.
Ina pun tanpa banyak bertanya lagi langsung pergi dari hadapan Rusdy dan menuju ke warung nasi uduk yang berada di depan bengkel.
Sampai siang tiba nasi uduk yang di belikan oleh Ina sama sekali belum di sentuh oleh Badai. Ina yang sedang memperhatikan Badai membongkar motor tiba-tiba di panggil Rusdy.
“In…kesini deh”
“Apa mas” Ina pun langsung menghampiri Rusdy.
“Nih…kamu tolong pergi sama Badai kasih uang yang kurang kemarin ke agen spare part dan setelah itu kamu buat lagi pembukuannya ya…bentar lagi kan mau tutup buku”kata Rusdy
“Iya mas”kata Ina
“Eh…in tunggu sebentar”Rusdy memanggil Ina ketika  ia ingin pergi
“Iya ada apa mas”kata Ina yang langsung menghentikan langkahnya.
“Hem..sepertinya kamu hari ini berbeda”kata Rusdy yang melihatinya dari atas samapai kebawah.
“Beda apanya mas ?’tanya Ina bingung
“Ya…kamu lebih cantik kalau rambut mu di gerai seperti itu dari pada di kuncir kuda seperti biasanya”Kata Rusdy
“Oh…rambut saya di gerai karena tadi pagi saya habis keramas mas”kata Ina sedikit malu
“Tapi beneran deh cantik ko”Kata Rusdy.
Badai yang telah selesai membongkar motor melihat mereka berdua di satu ruangan yang wanitanya malu-malu dan yang prianya terlihat nakal.
“Ehm…”kata Badai
“Dai…kamu setujukan sama saya kalau Ina itu lebih catik kalau rambutnya di gerai seperti itu”kata Rusdy yang langsung memanggil Badai ketika melihatnya.
Badai pun melihat ke arah Ina dan langsung berkomentar.
“Biasa saja tuh”kata Badai ketus.
Ina yang sempat senang dengan pujian dari Rusdy langsung pergi dari hadapan Badai ketika mendengar Badai berbicara seperti itu kepadanya.
Rusdy yang melihat tingakah mereka berdua hanya tersenyum saja.
“kamu sama mantan ko begitu banget sih Dai”kata Rusdy.
“Apaan sih bos”kata Badai yang terdengar ketus”Inget bos pacar yang jauh disana”kata Badai mengingatkan Rusdy.
Rusdy tertawa lebar ketika mendengar ucapan Badai.
“OH..iya..kamu temani Ina sana ke Agen spare part yang kemarin kan uangnya kurang”Kata Rusdy yang masih sambil tertawa melihat tingkah Badai.
Badai pun menghampiri Ina yang telah bersiap di depan bengkel untuk pergi ke agen spare part motor.
“ayo “kata Badai yang mengajak Ina naik ke atas motornya.
Ina pun langsung menaiki motor yang di kendarai Badai. Ia tidak kesal dengan perkataan Badai tadi dan seperti biasa mereka hanya terdiam saja ketika di perjalanan.
Semua peristiwa ini bermula ketika Badai memutuskan hubungan mereka berdua, dan akhirnya mereka berdua pun tidak pernah saling berbicara dan bersenda gurau seperti dahulu kala. Mereka hanya berbicara seperlunya saja, dan selebihnya merka berdiam diri saja.
Dan entah kenapa hari ini Badai tiba-tiba mengajak Ina berbicara ketika di perjalanan.
“Senang ya..tadi di puji sama Rusdy”kata Badai.
“Biasa saja”Kata Ina.
“Masa sih ntar bohong lagi”kata Badai meledek Ina
“Iya”Ina sudah malas meladeni Badai berbicara.
“Siapa sih yang nggak senag di puji sama Rusdy yang ganteng,pinter dan banyak uangnya”kata Badai yang membuat Ina langsung meminta Badai menghentikan motornya.
“Berhenti Dai..berhenti”kata Ina kesal.
Badai pun langsung menghentikan motornya di pinggir jalan. Ina pun langsung turun dari motor dan bertanya pada Badai.
“Maksud kamu apa?”Tanya Ina kesal
“Ya..benar kan kata ku saiapa sih yang tidak suka di puji oleh Rusdy yang ganteng, pintar dan banyak uang”Badai pun terlihat kesal.
“Kamu cemburu sama mas Rusdy karena muji-muji aku?”Tanya Ina kesal.
“Nggak”kata Badai.
“Bohong kamu”kata Ina.
“kenapa kamu bisa bilang begitu?”Tanya Badai bingung.
“Aku tahu kamu masih sayang sama aku tapi aku nggak tahu kenapa kamu masih malu mengakuinya”
“In…apa sih yang kamu harapkan dari aku, aku ini hanyalh seorang montir”

TAMAT

Aku MencintaiMu

Siang itu matahari benar-benar terik, cahayanya serasa membakar kulitku. Panas sekali. Namun sengatan terik matari itu tak berarti apa-apa bagiku sekarang. Tak ada yang mampu mengurangi kebahagiaanku karena bersamanya. Kueratkan pegangan tanganku dipinggangnya, sambil terus menikmati semilir angin  yang menerpa lembut wajahku. Dia menambah kecepatan sepedahnya, hingga suara derit sepedah kayuh itu terdengar semakin keras.            “kau akan mengajakku kemana siang ini?” tanyaku dari balik punggungnya.            “menurutmu sebaiknya kita kemana?” dia berpaling kearahku sejenak balik bertanya. Aku mengernyitkan kening.            “kau pernah pernah berjanji akan mengajakku memancing kan?” kataku berharap.            “ya. Kau mau menagih janjiku?” jawabnya setengah tertawa.            “hmm… entahlah.. aku hanya ingin mendengar ceritamu hari ini…” gumamku. Aku tak peduli dia akan membawaku kemana, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya sebelum matahari tenggelam dan kembali memaksaku terlarut dalam keheningan malam.            “hey, pegangan yang erat yah! Aku akan menunjukkan padamu tempat yang indah, dimana kau akan melihat senja dengan leluasa” katanya. Aku tersenyum dan mengangguk. Kurangkul punggung bidang itu dengan kedua tangan. Rok panjangku yang menjuntai kebawah berkibar diterpa angin. Entah kenapa, siang ini semuanya tampak sangat indah.            Beberapa menit kemudian kami sampai di tempat yang sama sekali belum pernah kutemui sebelumnya. Bisa kulihat danau kecil yang teduh kerena naungan pepohonan disekitarnya. Semilir angin terasa begitu bersahabat disini, suara gemerisik dedaunan dan gesekan rerumputan turut meramaikan ketenangan disekitar danau. Yuu menyandarkan sepedahnya pada pohon besar di tepi danau, kemudian mendahului aku duduk di bawah pohon itu, diatas rerumputan hijau dan menghadap kearah danau. Aku mengikutinya dan duduk di sebelahnya, menghirup nafas dalam-dalam, merasakan aroma pepohonan yang menenangkan hati.            “kau suka?” tanyanya. Aku mengangguk dan tersenyum.            “apa kau sering kemari?” balasku.            “ya. Aku sering menghabiskan waktu luang bersama ayah disini. Memancing.” Dia menyingkap kedua tangannya di atas kepala dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon.            “apakah ikan disini besar-besar?”            “lumayan…” jawabnya, dia memandang mataku dan tersenyum “ini pertama kalinya aku kemari bersama wanita”            “oya? Apakah atmosfirnya berbeda? Bagaimana menurutmu?”            “ya, tentu saja. Hatiku merasa lebih tenang dan nyaman bersamamu. Kau buat suasananya semakin menyenangkan” cengirnya, masih menatap mataku. Aku tertawa mendengarnya.            “benarkah? Oh ya, katamu senja terlihat jelas disini, tapi banyak pepohonan yang menjulang tinggi menghalangi pandangan” komentarku. Yuu terbahak. Apanya yang lucu?            “kau kira sekarang kita menghadap ke Barat? Barat ada di sana sayang…” katanya seraya menunjuk ke kiri dari tempatnya menghadap, tanpa melihat ke arah itu.            “ah…” aku tersipu. Bias kurasakan pipiku menghangat karena malu. Kujulurkan kepalaku ke kiri untuk melihat matahari. Sinarnya menyilaukan mataku.            “sebentar lagi senja tiba…” gumamnya padaku. Yuu mengambil batu kecil disekitarnya dan melemparkannya ke danau. Air yang tenang itu berkecipak nyaring dan permukaannya bergurat senada dengan getaran suaranya. Aku memandangi wajahnya yang teduh itu. Hatiku benar-benar bahagia bisa bersamanya. “Lin?” aku terkesiap.            “apa?”            “kau melamun” vonisnya tersenyum geli. Aku membalas senyuman itu.            “tidak kok, hanya mengamati senyummu” jawabku jujur.            “kenapa dengan senyumku?” tanyanya heran. Aku mengangkat bahu dan tertawa pelan, “hey, ada yang salah?” lanjutnya.            “tidak. Aku hanya berfikir, mungkin tanpamu aku tak mampu lagi setegar karang di pantai” ungkapku. Yuu termenung sejenak mendengar kata-kataku.            “karang? Kau yakin akan sekuat itu jika bersamaku?”            “ya. Kau yang telah mengembalikan senyumku. Kau membuatku melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, membuatku tak lagi takut dengan takdir yang telah ditentukanNya. Kau membuat langkahku tak lagi goyah menapaki kehidupan. Senyummu, membuatku yakin akan masa depan yang kelak menyatukan kita” Yuu menatap mataku lekat-lekat.            “harusnya aku yang berkata begitu. Kau adalah satu-satunya hal yang membuatku bahagia bisa hidup sampai sekarang. Kau membuatku percaya bahwa selalu ada cahaya disetiap ruang gelap meski sedikit”            “Yuu…” hatiku bergetar mendengarnya. Aku benar-benar tak ingin kehilangan dia seperti aku kehilangan orang-orang yang kusayangi. Karena sekarang hanya dialah yang membuatku semangat menjalani kehidupan yang fana ini.            “aku mencintaimu…” lirihnya tersenyum. Dia mendekat dan menggenggam tangan kiriku yang gemetar, “jangan pernah merasa sendirian lagi. Aku ada buatmu” sebutir air mata jatuh membasahi pipiku, namun dengan segera kuhapus air mata itu. Sudah bertahun-tahun aku tak merasakan kebahagiaan seperti ini…            “aku juga mencintaimu” sambil tersenyum, kubalas genggaman tangannya. “ah, lihat cahaya itu… indah sekali” Yuu membalikkan badannya ke arah matahari yang mulai kembali ke peraduannya.            “kau jauh lebih indah…” ungkapnya, kembali memandangku. “yuk, kuantar kau pulang” lirihnya. Aku mendengus kesal.            “ah waktu… kenapa kau begitu cepat berlalu…” gerutuku. Yuu tertawa.            “sudahlah, besok sepulang sekolah kita kesini lagi. Aku akan menyiapkan alat pancingnya. Bagaimana?” tawarnya. Senyumku kembali merekah. Aku menggangguk setuju.            Yuu tetap tak melepaskan genggaman tanganku bahkan ketika dia telah mengayuh sepedahnya. Aku tak bisa berhenti tersenyum sekarang, tidak setelah semua yang kulalui hari ini bersamanya. Aku sangat mencintainya… Aku ingin merasakan kebahagiaan ini lebih lama lagi, sebelum semuanya berakhir… By: Ai Lynn

Mutiara Hati

Awal semester merupakan hari-hari dimana sekolah tidak pernah sepi. Murid-murid sibuk melepas rasa rindu dan bebagi pengalaman liburan. Begitu pula Sakti, Arya, Mala, Ines, dan Jehan. Menurut pendapat mayoritas siswa di sekolah, mereka adalah sekelompok soulmate yang ditakdirkan untuk bersama. Bagaimana tidak, ke kantin selalu bareng, pulang sekolah bareng, nongkrong di mall juga bareng.
Persahabatan mereka dimulai sejak masih kecil. Kebetulan tahun ini kelimanya masuk ke kelas yang sama, XI IPA 9. Seperti halnya anak-anak lain, mereka tidak sabar untuk bertukar cerita setelah dua minggu tidak bertemu.Siang itu udara sangat panas dan cukup menguras keringat murid-murid. Kelima sahabat sedang berkumpul sambil menyantap rujak. Di sela-sela canda tawa dan keakraban mereka, tersimpan rahasia yang tertutup rapat, jauh di dasar hati Sakti. Perasaannya kepada Ines.
Perasaan itu muncul sejak bertahun-tahun yang lalu. Bahkan sejak mereka belum mengenal cinta. Meskipun perasaan itu begitu kuat, Sakti tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya. Takut merusak persahabatan mereka, Sakti memilih memendam perasaannya sendiri. Baginya, bisa berada di sisi Ines setiap gadis itu membutuhkannya sudah lebih dari cukup.
Walaupun sudah bertahun-tahun berada di sisi Ines, Sakti baru saja mengetahui tipe pria idamannya yang sesungguhnya melalui obrolan ringan mereka sore ini. “Gue suka yang bawel, humoris, jago olahraga, dan pinter ngaji. Buat bekal masuk surga hehehe.” Ungkap Ines diselingi tawa renyahnya.
Malamnya, pengakuan singkat Ines terngiang-ngiang di otak Sakti. Bagaimanapun, perasaannya yang begitu kuat menginginkan dia menjadi seseorang yang didambakan Ines. Dia pun berusaha menjadi apa yang Inez inginkan. Di sisi lain, Arya yang merupakan sahabat terbaik Sakti juga melakukan hal yang sama, berusaha menjadi pria idaman Ines.
Jika Sakti memilih memendam perasaannya, lain lagi dengan Arya. Cowok playboy ini bertekad mendapatkan cinta Ines. Usahanya berhasil. Dalam beberapa hari, mereka resmi menjadi pasangan baru. Namun, Ines memilih merahasiakannya terlebih dahulu dari sahabat-sahabatnya. “Gue ga enak sama yang lain. Makanya jangan bilang siapa-siapa ya.” Pintanya kepada Mala.
Suatu siang  Sakti dan Jehan datang ketika Ines dan Mala sedang asyik mengobrol. Sebelumnya, Arya memberi tahu Jehan bahwa dia dan Ines telah resmi berpacaran. Tidak percaya pada perkataan Arya, Jehan memilih bertanya langsung pada Ines. “Nes, kata Arya kalian jadian? Memang benar?” tanyanya tanpa basa-basi. Pertanyaan ini kontan membuat Ines terkejut. Ia dan Mala memilih bungkam.
Sayangnya, diamnya Ines berarti ‘ya’ bagi Sakti. Ia pun pergi meninggalkan mereka dengan perasaan hampa.
Beberapa hari kemudian, sikap Sakti semakin janggal. Dia tidak berlama-lama di sekolah, tidak ikut acara teman-temannya, bahkan dia semakin jarang masuk sekolah. Hal ini membuat teman-temannya khawatir. “Sakti kenapa sih ngga masuk-masuk?” Jehan bertanya cemas.“Gue khawatir sama dia, gimana kalau kita jenguk?” usul Mala. Mereka setuju, tapi Arya dan Ines tidak bisa ikut. Hal ini membuat Sakti kecewa, suasana hatinya berubah sesaat setelah Jehan menjelaskan alasan mereka tidak ikut menjenguknya. “Sorry, kalian pulang aja ya, gue ngga enak badan,” ujar Sakti.
Kata-katanya itu membuat para gadis khawatir akan kondisi Sakti yang sebenarnya. Melihat Sakti yang tampak sedang bad mood, mereka mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.
Keesokan harinya, Sakti masuk sekolah sesuai janjinya. Tetapi dia tidak seperti biasanya. Kelihatan lesu, tidak bersemangat, dan sering memakai jaket padahal suhu udara sedang tinggi. Sikapnya pun menjadi defensif dan lebih pemarah dari biasanya, terutama kepada Arya. Perubahan sikapnya ini menimbulkan tanda tanya bagi sahabat-sahabatnya. Namun, sikap baru Sakti yang mudah tersinggung membuat mereka enggan bertanya.
Akhirnya, hari ulang tahun Sakti tiba. Sahabat-sahabatnya menganggap ini adalah momen yang tepat untuk memperbaiki hubungan persahabatan mereka yang sedikit merenggang beberapa hari belakangan. Mereka berencana datang ke rumah Sakti, memberikan kejutan di hari ulang tahunnya yang ke-17.“Sakti paling suka kue coklat,” ujar Ines sambil tersenyum tulus. Dia tahu rasa kue kesukaan Sakti, minuman favoritnya, bahkan acara tv yang selalu ditontonnya di hari Minggu. Namun,dua hal  yang tidak ia ketahui adalah perasaan Sakti kepadanya dan apa yang Sakti lakukan di belakangnya. Narkoba. Ya, barang haram yang mereka semua janji tidak akan pernah menyentuhnya.
Pagi itu, 31 Maret 2011, hari ulang tahun Sakti yang ke-17. Keempat sahabatnya datang ke rumah Sakti, siap memberikan kejutan baginya. Namun, yang justru dilihat mereka bukanlah wajah Sakti yang berseri-seri menyambut mereka, melainkan pemandangan Sakti yang sedang sekarat dengan sebuah jarum suntik di dalam genggamannya. Pemandangan yang tidak pernah mereka harapkan sebelumnya.
Suasana kontan menjadi kacau. Mala menangis, Ines dan Jehan membombardir Sakti dengan berbagai pertanyaan, sementara Arya sibuk menyalahkan Sakti atas tindakan bodohnya. Keadaan Sakti tidak tertolong lagi, ia menghembuskan nafas terakhir di saat teman-temannya sibuk bertengkar.
Seusai pemakaman, Mala, Ines, Jehan, dan Arya kembali berkumpul di rumah Sakti. Masih dalam keadaan terpukul, mereka memutuskan mencari tahu penyebab Sakti memakai narkoba. Pencarian mereka berujung pada sebuah buku harian. Perlahan mereka membuka, membaca halaman demi halaman, hingga akhirnya sampai di halaman yang menjelaskan segalanya.
Ines Valerina. Tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan betapa cantiknya dia. Sikapnya yang sungguh ramah... andai aku punya keberanian untuk menyatakan cintaku. Ya, seandainya....
Ines menutup buku, tidak sanggup membaca lebih jauh. Air matanya mulai menetes, Mala dan Jehan terisak kencang di sisinya. Arya menyandarkan kepalanya, frustasi. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa hubungannya dengan seorang gadis akan menjadi alasan kematian sahabatnya

Selasa, 21 Juni 2011

bahaya memakai headset


Bahaya Penggunaan Headset [Earphone]. Terlalu sering menggunakan atau terlalu memaksa pemakaian headset akan menyebabkan kerusakan gangguan pendengaran atau penurunan fungsi pendengaran [tuli, budeg dll.]. Apalagi biasanya earphone/headset digunakan dengan diset sekeras-kerasnya untuk "melawan" noise dari luar yang biasanya kita gunakan di tempat-tempat ramai/ bising. Ini sangat beresiko tinggi.

Ketulian sudah dapat menyerang orang semakin dini. Awal-awalnya telinga yang sering menggunakan earphone tidak terasa apa-apa, tapi ketika hendak mencabut earphone, telinga terasa panas dan berdengung hebat.

Itu terjadi akibat kelelahan koklea [rumah siput], yang berperan penting dalam proses pendengaran. Kelelahan koklea yang terjadi terus-menerus dan tak segera ditangani dapat menyebabkan gangguan pendengaran menetap.

Untuk orang dengan pendengaran normal, audiogram terletak antara nol dan 20 desibel. Di atas angka itu, artinya kondisi telinga sudah tidak beres.

Hanya dapat diobati dengan terapi hiperbalik [memberi obat-obatan khusus] agar tingkat ketuliannya berkurang, tapi tak sembuh. Sebab, yang rusak adalah sel rambut pada organ telinga bagian dalam yang berfungsi menangkap rangsangan atau frekuensi suara. Bila bagian ini sudah terganggu dan rusak, tak akan bisa kembali normal.

Badan Kesehatan Dunia [WHO], Sound Hearing 2030 juga sudah memprogram untuk mengurangi kasus gangguan pendengaran dan ketulian hingga 50 persen pada 2015, dan 90 persen dalam 15 tahun berikutnya. Masalah utamanya adalah gaya hidup yang salah seperti kebiasaan penggunaan earphone.



Selain itu, jangan menggunakannya saat menyetir atau di jalan raya yang berisik. Ini akan membuat pengguna tidak mendengar suara peringatan orang/ mobil lain dll, yang kemungkinan besar menyebabkan kecelakaan. Self-awareness menurun karena pengalihan konsentrasi kita dari lingkungan sekitar dan jalan ke suara dari earphones.

Keseimbangan badan pun bisa kacau karena tekanan udaranya mempengaruhi keseimbangan badan ketika kita menggunakan earphone di jalan atau sedang menyetir. Lebih baik kita rajin membersihkan telinga dari ear wax agar tidak infeksi.

Dengan mengetahui bahaya penggunaan headset [earphone] diatas, mudah-mudahan bisa menjadi peringatan buat kita agar tidak terlalu sering menggunakan headset/earphone. Lebih baik langsung pake spiker, kan lebih puas tuh dengernya.